Adi Iskandar

ls3_14a-ngamena

PENGAMEN

Pagi-pagi, Saya bergegas menuju terminal. Hari ini Saya ada panggilan interview dari sebuah Perusahaan riset. Saya sengaja naik bis melalui terminal, agar mendapatkan tempat duduk. Bisa saja seandainya Saya menunggu bis hanya dari depan gang rumah Saya, tidak harus menuju terminal yang harus mengeluarkan ongkos lagi untuk angkot. Tetapi untung-untungan antara mendapatkan tempat duduk atau tidak, makanya daripada main tebak-tebakan, Saya pikir langsung ke terminal saja, toh..hanya perlu mengeluarkan tambahan uang Rp 2000.

Sampai di terminal, Saya langsung naik ke dalam bis yang sesuai dengan tujuan. Masih kosong dan bisa bebas memilih tempat duduk yang saya mau. Saya memilih duduk di dekat jendela agar pandangan lebih leluasa. Satu persatu tempat duduk mulai diisi oleh para penumpang. Sopirpun mulai menjalankan bisnya ketika penumpang sudah mulai penuh. Seketika itu juga naik seorang pemuda dengan membawa gitar. “Assalamualaikum para penumpang semuanya, selamat pagi, saya mohon maaf kalau kedatangan saya disini mengganggu ketenangan Bapak dan Ibu sekalian”, begitu sang pemuda mengawali pembukaannya. Kemudian, dia mengucapkan terima kasih kepada sopir dan kondektur. “saya ucapkan terima kasih kepada Bapak sopir dan Bapak kondektur, karena telah mengijinkan saya naik dalam bis untuk ngamen dan meminta keikhlasan dari penumpang yang ada di bis anda”. Sopir kadang dengan sukarela mematikan tape yang sedang diputar bila ada pengamen naik dalam bisnya.

Ya, mereka memang biasa disebut dengan pengamen, atau lebih kerennya, mereka lebih suka disebut dengan “penyanyi jalanan”. Sementara musik yang mereka mainkan sering mereka sebut sebagai “musik jalanan”. Sebenarnya pengertian “musik jalanan” atau “penyanyi jalanan”, tidaklah sesederhana terminology yang mereka sebutkan diatas. Sebab, “musik jalanan” dan “penyanyi jalanan” mempunyai disiplin dan pengertian yang spesifik, bahkan merupakan suatu bentuk dari sebuah warna musik yang berkembang di dunia kesenian. Di dunia musik, bentuk “musik jalanan” ini dikenal sudah mulai berkembang sejak abad pertengahan, terutama di Eropa. Pada saat musik di Eropa berkembang lewat penyebaran agama Kristen, saat itu banyak yang mengatakan sebagai landasan kebudayaan yang kemudian berkembang dalam kehidupan manusia.

Kebanyakan para pengamen atau “penyanyi jalanan” ini selalu tampil sebagai dirinya sendiri. Hingga tak jarang lagu-lagu yang mereka bawakan menjadi versi lain yang tak kalah menarik dari komposisi versi aslinya. Contohnya lagu-lagu popular dari kelompok Koes Ploes misalnya, hampir semua mempunyai versi atau gaya berbeda dalam membawakannya. Ada juga sih, lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri, mereka nyanyikan, tapi isi liriknya kontradiktif dengan apa yang mereka kerjakan. Ada juga lagu yang membuat kita, korban pendengar, tersenyum geli.

Bila keberadaan para pengamen ini bisa mendapatkan arahan secara edukasi yang tepat dan berkesinambungan, bukan tidak mungkin dunia ngamen ini akan menjadi semacam lahan mentah dari pencarian bentuk-bentuk musik pop Indonesia, yang kian hari terasa semakin canggih dibidang skill atau keterampilan teori, terutama bila menyentuh akar tradisi dan budaya yang semestinya menjadi ujung tombak untuk dikembangkan secara lebih luas ke dunia musik Internasional sebagai asset bangsa dan negara.

Dalam bayangan Saya, bagaimana jika lagu yang mereka bawakan direkam dengan kualitas memadai, disimpan dalam format mp3, dan disediakan dengan lisensi terbuka untuk keperluan personal. Memang ini bukanlah “ide yang menjual” dan ada persoalan yang saya belum faham dari sisi lisensi. Bagaimana aturan memainkan lagu musisi lain seperti yang dilakukan oleh pengamen jika kemudian dipasang di internet? Misalnya si pengamen tersebut dengan fasih melantunkan lagu Peter Pan, tentu dengan kelaziman saat ini tidak ada yang memedulikan jika dinyanyikan di perempatan, namun bagaimana apabila dikemas dan diletakkan di internet? Walaupun dalam bayangan saya disediakan secara Cuma-Cuma dengan lisensi berbagi (share a like). Apakah manajer musisi lagu popular tersebut bisa terima?

Tetapi tidak semua pengamen yang serius dalam membawakan lagu. Hanya bermodalkan sebuah botol air mineral yang diisikan beras atau pasir. Kemudian digoyang-goyangkan sehingga menimbulkan bunyi “kecrek-kecrek”. Tidak jelas lagu apa yang dibawakannya, dengan suara keras dan nada sumbang, lebih terkesan berteriak-teriak saja daripada menyanyikan sebuah lagu. Kalau menurut Saya, mereka lebih mirip preman atau pengemis. Kadang-kadang mengamen hanyalah sebagai kedok belaka. Nggak tahu juga pengamen sungguhan atau gadungan, kalau sungguhan pengamen masa sih nggak niat begitu. Nyanyi juga asal bunyi saja. Saya sendiri terkadang bingung bagaimana menghadapi orang-orang seperti itu. Kalau nggak dikasih uang sepertinya kok kasihan banget. Tapi kalau terus-terusan dikasih, pasti mereka keenakan. Apakah ada yang punya pendapat lain?


Juli 2017
S S R K J S M
« Des    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Tulisan Terakhir

Klik tertinggi

  • Tidak ada